Sistem Pemasaran Ternak Sapi

Sistem Pemasaran Ternak Sapi dan Strategi Pemasarannya

Sistem Pemasaran Ternak Sapi (Ayobudidaya.com) – Dalam sistem pemasaran ternak sapi, kita akan melihat beberapa faktor, yakni, misalkan pada peternak sapi potong lokal di Indonesia pada umumnya mengusahakan untuk mereka bersamaan dengan usaha tani lainnya. Rata-rata peternak sapi telah melakukan usaha ternak lebih dari 15 tahun dengan kepemilikan antara 1 – 10 ekor per orang.

Blantik melakukan pembelian sapi dari peternak dalam jumlah yang kecil anatar satu sampai dua ekor. Blantik disini memudahkan peternak dalam hal pengangkutan karena peternak. Bandar sapi melakukan fungsi tempat yaitu dengan menampung sapi salam jumlah yang lebih besar untuk kemudian disalurkan ke feedloter atau RPH (penjagal sapi).

Feedloter perusahaan swasta memiliki kategori permintaan yang lebih ketat dibandingkan dengan feedloter perseorangan. Maka dalam sistem pemasaran ternak sapi, sapi yang dibeli harus sehat dan memenuhi persyaratan berat minimal 250 Kg. Selain feedloter perusahaan swasta juga terdapat feedloter-feedloter perseorangan yang memiliki kapasitas kandang dan penggemukan  sapi cukup besar.

Baca Juga : Sistem Pemasaran Daging Sapi di Indonesia

Baca Juga : Managemen Pemasaran Sapi Potong di Indonesia

Jumlah sapi yang mereka ternakan berkisar antara 500 – 3000 sapi . Penguasaan sapi lokal di Lampung sebagian besar bias dilakukan dimiliki oleh feedloter perseorangan ini. RPH dalam saluran pemasaran yang berikutnya yaitu RPH atau penjagal. RPH merupakan lembaga yang resmi memiliki izin pemerintah untuk melakukan pemotongan sapi, sementara penjagal adalah individu perseorangan yang bergerak di bidang usaha pemotongan sapi tanpa harus memiliki izin dahulu dari pemerintah. Pelaku lembaga pemasaran selanjutnya adalah Bandar daging.

Dalam sistem pemasaran ternak sapi, bandar daging adalah individu/lembaga yang menyalurkan daging ke pengecer daging atau Horeka. Banyak juga terdapat Bandar daging yang merangkap sebagai pengecer di pasar, karena keuntungan akan lebih maksimal. Untuk sapi impor Bandar daging sapi lokal akan disalurkan ke pedagang pengecer. Pedagang pengecer adalah individu/lembaga yang melakukan penjualan daging sapi langsung ke konsumen, baik konsumen di pasar tradisional maupun  UKM.

Baca Juga : Sistem Distribusi Daging Sapi di Indonesia

Jika dilihat dari pembeli dan penjual yang terlihat dalam rantai pemasaran,maka perlu pelaku pemasaran berada dalam keadaan struktur pasar yang bersaing sempurna. Akan tetapi setelah di teliti lebih lanjut struktur pasar sapi/daging sapi di Indonesia cenderung oligopoli. 

Struktur pasar oligopoli yaitu suatu keadaan pasar dengan beberapa produsen  yang menghasilkan barang yang sama. Differensiasi produk mengacu pada berbagai jenis produk (sapi dan daging sapi) yang dihasilkan oleh produsen.Hasil penelitian kinerja pasar sapi/daging sapi potong menunjukkan bahwa produk yang dihasilkan dimulai dari sapi hidup hingga potongan daging.

Untuk lembaga pemasaran peternak, belantik, Bandar sapi dan feedloter menjual produk dalam bentuk sapi hidup. Sedangkan jika telah melewati RPH hingga konsumen akhir, produk yang diperjual belikan berupa sapi yang telah dipotong atau potongan daging.

Perilaku Pasar (Market Conduct) dalam sistem pemasaran ternak sapi adalah pola tingkah laku dari lembaga pemasaran dalam hubungannya dengan sistem pembentukan harga dan praktek transaksi. Peternak menjual sapi pada waktu tertentu, seperti ketika ada kebutuhan mendesak, kebutuhan anak sekolah, atau ketika perayaan hari besar agama.

Harga jual sapi ditetapkan dari kesepakatan kedua belah pihak setelah terjadi proses tawar menawar, Namun keputusan penetapan harga dipegang penuh oleh pembeli, karena posisi peternak yang lemah dan tidak mempunyai daya tawar. Peternak sapi lokal bias menjual sapi kepada beberapa lembatga pemasaran yang ada, seperti belantik, Bandar sapi, feedloter atau pembeli yang datang dari luar daerah.

Peternak memiliki keleluasaan dalam menjual ternaknya, dan kebanyakan para pembelilah yang datang mencari petani untuk membeli sapi. Kecuali feedloter yang hanya menerima dari belantik atau Bandar, jarang sekali mencari sendiri. Ketidakpastian periode penjualan yang dilakukan oleh peternak membuat pembeli cukup kesulitan mencari sapi di pasaran.

Keragaan Pasar  menggambarkan sampai sejauh mana pengaruh riil struktur dan perilaku pasar yang berkenaan dengan harga, biaya, volume produksi, pangsa produsen, marjin pemasaran, dan elastisitas transmisi harga (Hasyim, 1994)


Saluran sistem pemasaran ternak sapi/daging sapi di Indonesia
 sebagai berikut :

  1. Peternak, blantik, bandar/pengumpul sapi, feedloter (lokal), RPH/penjagal, Bandar daging/pengecer, konsumen pasar tradisional dan UKM.
  2. Peternak,belantik, bandar/pengumpul sapi, feedloter (impor), RPH/penjagal, bandar daging/pengecer, konsumen pasar tradisional dan UKM.
  3. Peternak, blantik, RPH/Penjagal, bandar daging/pengecer, konsumen pasar tradisional dan UKM.
  4. Peternak, feedloter (lokal), RPH/penjagal, bandar daging/pengecer, konsumen pasar tradisional dan UKM.
  5. Peternak, belantik, feedloter(lokal), bandar sapi (LP)
  6. Peternak, feedlot (rakyat), bandar sapi (LP)
  7. Inportir sapi, feedloter (impor), RPH ®bandar daging/pengecer, Horeka (khusus sapi impor).

admin Penulis

Ayo Budidaya adalah situs blog yang menggambarkan tentang semua metode budidaya hingga menjadi suatu produk. Semua berisikan tentang informasi bermanfaat yang bisa digunakan setiap orang dalam beraktifitas budidaya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *