Asep Rabbit

Sistem Pemasaran Kelinci Peternakan Asep Rabbit

Sistem Pemasaran Kelinci Pada Peternakan Asep Rabbit Bandung – Asep Sutisna (60) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Asep Rabbit memang sudah tidak asing lagi dikalangan penghobi kelinci, para mahasiswa peternakan yang ada di Indonesia. Terlebih, masyarakat Lembang, Bandung, Jawa Barat. Asep Sutisna merupakan pemilik peternakan kelinci yang disebut sebagai Asep Rabbit.

Tangan dingin Asep dalam mengelola Asep Rabbit, kini terus membuatnya menjadi rujukan para penyuka hewan yang identik dengan sayuran wortel tersebut. Bahkan, kini, dirinya dan usahanya, yakni breeding atau pembibitan kelinci yang berkualitas di Jl. Raya Lembang No. 119, tepatnya di Kampung Babakan Laksana, RT 4 RW 7, Desa Gedong Kahuripan, Kec. Lembang, Kab. Bandung Barat menjadi rujukan jurusan peternakan di seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

Asep yang semula berprofesi sebagai fotografer di studio kecil yang tak jauh dari kandang kelincinya ini pun mengakui secara kebetulan dan tidak ada unsur kesengajaan memulai usaha kelinci sampai memiliki brand besar Asep Rabbit, seperti saat ini. Karena, ia akui, memang dia tidak memiliki pendidikan di bidang peternakan, dan bahkan tidak memiliki pengalaman dalam beternak kelinci.

Asep Rabbit
Asep Sutisna Pemilik Asep Rabbit saat Foto Bersama

Menurutnya, keterpikatan pada kelinci bermula dari sang anak yang menyukai dan memelihara. Anaknya tersebut yang memulai memelihara sebanyak lima ekor. Kemudian, cerita Asep, kelinci anaknya tersebut yang berawal lima terus bertambah karena beranak. Sampai pada akhirnya ia menjual kelinci-kelinci tersebut dan membeli kembali sepasang kelinci lainnya.

Karena bisnis ternak kelinci tersebut dianggapnya punya potensi besar dengan melihat potensi masyarakat di sekitar rumahnya yang mayoritas petani, sehingga tidak terlalu sulit dalam memenuhi kebutuhan makanan kelinci, ia pun tertarik untuk menseriuskan usaha budidaya kelinci-kelinci tersebut pada tahun 1990. Maka, empat tahun setelahnya ia gantungkan kamera yang saat itu sebagai mata pencaharian. Asep pun menjelma menjadi pembudidaya kelinci yang hingga saat ini namanya sudah dikenal di mana-mana, bahkan kelincinya sudah di manca negara.

Tahun 1992 sampai 1994 Asep melakukan impor besar-besaran dari Amerika lalu dikembangkan sampai banyak. Kurang lebih ada 15 ras kelinci yang datang ke Indonesia, namun seiring waktu yang  ramai di Indonesia hanya 5 sampai 6 ras, seperti Lop, Holland Lop, Angora, Rex, Lyon, dan semacamnya.

Kandang miliknya tersebut pada awalnya hanya bisa masuk 25 sampai 50 ekor. Seiring berkembangnya usaha Asep, lahan ternak pindah menggunakan lahan hak guna pakai di samping rumahnya dan sudah pernah menghasilkan lebih dari 2.000 ekor kelinci.

Kenapa ia serius dengan usaha kelinci, ini karena metode pemasarannya berhasil ia matangkan. Pada awalnya ia berpikir dengan membandingkan banyak dagingnya satu ekor sapi itu sama dengan tiga ekor kelinci pedaging. Modal yang dikeluarkan untuk sapi pun lebih besar, seperti sapi perah membutuhkan modal sekitar Rp14 juta rupiah dengan penghasilan antara Rp450.000 per bulan, ditambah lagi kerja yang tiada henti.

Sedangkan jenis kelinci pedaging lokal dengan modal yang sama bisa mendapatkan sebanyak 140 ekor, dalam satu bulan semua berkembangbiak rata-rata 5 ekor setiap kelinci. Dalam dua bulan bisa menghasilkan sekitar 700 ekor kelinci, jika dipanen secara murah dengan harga Rp20.000 per ekor, penghasilan yang didapat bisa melebihi pendapatan setiap bulan ternak hewan lain.

Kelinci impor pun ia beli dengan harga Rp4,5 juta rupiah, dalam tiga bulan rata-rata beranak 4 ekor. Harga jual anak kelinci impor sekitar Rp2,3 juta, menjual empat ekor anak kelinci impor saja bisa mendapatkan Rp10 juta rupiah.

Menurutnya, dalam analisa berdagang, beternak kelinci itu seperti ternak uang. Kenapa demikian? Asalkan kembalinya modal tidak terlalu susah, namun hasil yang didapat melimpah. Nah, analisa ini menurutnya harus sesuai. Dalam artian sesuai adalah mampu atau menguasai cara beternak yang benar. Sebab, kelinci itu sama seperti kambing yang juga makhluk hidup.

Sampai saat ini dalam per bulan Asep sendiri bisa mengeluarkan kelinci hasil pembibitannya baik di dalam negeri maupun ke luar negeri. Seperti ke Thailand, Malaysia, Singapura, dan beberapa negara lainnya. Kenapa negara tersebut memilih Indonesia, dan tidak ke negara asal, hal ini lantaran, kelinci yang dibudidayakan di Indonesia dikenal lebih mudah beradaptasi dengan kondisi di negara-negara pemesan tersebut. Sehingga, kelinci dari Indonesia masih menjadi pilihan.

Kebanyakan, kelinci yang keluar dari pembibitannya sekarang adalah kelinci hias. Bahkan, Asep kerap kehabisan, untuk itu ia juga memberdayakan kelompok peternak dengan anggota 200 peternak.

Adapun kelinci yang paling dilirik, dijelaskannya, dari Newzeland, Anggora, California, Dutch, Rex Amerika, dan jenis lainnya. Harga kelinci tersebut jika impor mencapai Rp2,3 juta untuk anakan, pada tataran lokal dan tergantung dengan jenis yang paling murah bisa didapat dengan harga Rp350 ribu. Bahkan, ada yang Rp50 ribu.

Untuk kelinci potong, Asep menjual per kg, harganya sendiri Rp35-50 ribu kg/hidup. Sedangkan untuk bibit kelinci potong, indukannya dijual dengan harga Rp300ribu/ekor umur 4 bulan dengan bobot 2,2-2,6 kg. Jenis kelinci potong adalah hasil persilangan antara kelinci Perancis dan lokal. Dalam tataran ini pun, setiap harinya, Asep mengirimkan kelinci-kelinci pada peternakan dan kelompoknya setiap hari ke Jakarta, Bogor, Tanggerang, dan Bekasi rata-rata 800 ekor kelinci. Lalu, ke Malaysia dan Arab Saudi selama satu bulan 2 kali, lebih dari 5.000 ekor, bahkan bisa mencapai 8.000 ekor untuk kebutuhan kelinci potong konsumsi. Untuk kelinci hias pengiriman luar negeri selama ini berlangsung di berbagai negara, yakni, Thailand, Singapura, Arab Saudi, dan berbagai negara lainnya.

Sementara, yang dipasarkan Asep tidak hanya kelinci. Ia juga, menjual berbagai pakan dan buku-buku tentang ternak kelinci. Bahkan, Asep Rabbit Project pun membuka lowongan bagi siswa magang dan yang ingin belajar seputar ternak kelinci. Pelatihan yang diajarkan seperti pengolahan limbah kelinci, pembuatan pakan, dan lain-lain. Bagi Siswa magang disediakan dua kamar disamping rumah Asep dan hanya dikenakan biaya Rp150.000 untuk perawatan pondok kelinci saja, untuk pelatihannya tidak dipungut rupiah sepeser pun.

Asep menambahkan, banyak sekali para petani yang membutuhkan limbah kelinci karena dapat juga dimanfaatkan untuk pertanian. Seperti urin kelinci yang dihargai sampai Rp10.000 per liternya, biasanya paling banyak digunakan oleh petani buah naga.

Kini orang-orang yang membeli kelinci yang diternakan asep biasanya mengethaui informasi dari sosial media, internet, dan asosiasi kelinci yang ada di setiap daerah.

Sekian informasi dari www.ayobudidaya.com dan baca artikel selengkapnya di ayo budidaya.

admin Penulis

Ayo Budidaya adalah situs blog yang menggambarkan tentang semua metode budidaya hingga menjadi suatu produk. Semua berisikan tentang informasi bermanfaat yang bisa digunakan setiap orang dalam beraktifitas budidaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *