Analisa Usaha Penggemukan Sapi Potong

Analisa Usaha Penggemukan Sapi Potong

Analisa usaha penggemukan sapi potong – Jika dalam suatu peternakan sapi dan dalam tata laksana penggemukan sapi potong secara cepat dilakukan maka akan menghasilkan analisa ternak sapi yang menguntungkan. Bahkan beberapa blogger dengan tema pertanian dan peternakan pun telah banyak menuliskan analisa usaha sapi potong 2017 baik analisa usaha penggemukan sapi limosin/ simental maupun analisa penggemukan sapi 2017.

Dan kali ini Ayobudidaya.com akan membahas tentang analisa usaha penggemukan sapi potong yang bisa menjadi pedoman usaha di tahun 2018 maupun di tahun 2019 dan tahun tahun berikutnya. Analisa usaha sapi potong ini akan dijelaskan secara umum dan sesuai di sepanjang tahun. Angka-angka ideal. Namun sebelumnya bisa dipelajari lebih dahulu dengan membaca artikel berikut ini Jenis-Jenis Sapi Lokal Asli Indonesia.

Cara Menghitung Analisa Usaha Penggemukan Sapi Potong

Dalam analisa untung rugi ternak sapi ini ayobudidaya.com akan menggunakan sapi potong jenis peranakan ongole atau sapi po per satu periode (4 bulan = 120 hari). Ini juga bisa dilakukan untuk analisa usaha pembibitan sapi potong atau menghitung keuntungan penggemukan sapi per ekor.

A. Biaya Produksi

Biaya tetap adalah biaya investasi yang besarnya tidak pernah berubah, seperti sewa lahan, bangunan kandang, dan peralatan. Dengan demikian biaya tetap dapat digunakan untuk jangka waktu beberapa periode penggemukan sapi potong. Rincian biaya sebagai berikut :

  • Biaya sewa lahan (jika tidak memiliki lahan sendiri)
    • 500 meter = Rp2.000.000/tahun
      • Jadi biaya sewa lahan per periode adalah Rp2.000.000 x 4 bulan = Rp670 ribu per bulannya.
  • Biaya pembuatan kandang sapi :
    • 20m2 x Rp200.000/m2 = Rp4.000.000
      • Jadi penyusutan kandang per periode (4 bulan) Rp4.000.000 x 6,67% (penyusutan kandang 4 bulan) = Rp266.800
  • Biaya Perlengkapan
    • Misal, perlengkapan seperti sapu, sikat, ember, selang, sekop, cangkul, sabit, dll. = Rp600.000 (selama 1 tahun).
      • Biaya periode (4 bulan) = Rp600.000 : 3 = Rp200.000
  • Tenaga kerja
    • = 1 tenaga kerja x 4 bulan x Rp400.000 = Rp.1.600.000
  • Total Biaya = Rp670.000 + Rp266.800 + Rp200.000 + Rp1.600.000 = Rp2.736.800

Selanjutnya, dihitung juga dalam analisa usaha penggemukan sapi potong terbaru saat ini. Yakni biaya tidak tetap, di antaranya adalah biaya untuk oembelian bakalan, pakan, upah tenaga kerja, rekening listrik, telepon dan transportasi.

  • Biaya pembelian 6 ekor sapi potong : yang dibeli sapi bakalan PO (Peranakan Ongole).
    • 5 Ekor x 200 kg x Rp15.000/kg = Rp15.000.000
  • Biaya pakan hijauan
    • 5000 kg x Rp200/kg = Rp.1.000.000
  • Biaya pakan konsentrat
    • 300 kg x Rp2.000/kg = Rp600.000
  • Biaya pakan tambahan seperti garam dapur, tepung tulang, dan lain-lain :
    • Rp100 x 5 ekor x 120 hari = Rp60.000
  • Biaya lain-lain (rekening listrik, telepon, transportasi)
    • Rp500.000 x 4 bulan = Rp2.000.000

Jumlah biaya tidak tetap per periode = 15.000.000 + 1.000.000 + 600.000 + 600.000 + 2.000.000 = Rp18.600.000

Total Biaya produksi per periode : Rp2.736.800 + Rp18.660.000 = Rp21.396.800

B. Hasil Produksi/Pendapatan Analisa Usaha Sapi Potong

Kiat sukses pembibitan sapi adalah di mana analisa usaha penggemukan sapi potong menampilkan manajemen penggemukan sapi potong yang menghasilkan. Dalam artian hasil produksi atau pendapatan juga bisa menjadi pendapatan utama yang maximal dan optimal.

Penambahan berat badan sapi =  0,8 kg x 30 hari x 4 bulan =96 kg/ekor. Jadi total berat sapi :

= Berat awal sapi + penambahan berat badan sapi

= 200 kg + 96 kg

= 296 kg.

  • Harga penjualan adalah Rp15.000/kg, jadi hasil penjualan sapi
  •  = 5 ekor x 296 x Rp15.000
  • = Rp22.200.000

Hasil penjualan kotoran sapi

  • 7 kg x 5 ekor x 120 hari x Rp200 = Rp840.000\
  • Total hasil produksi = Rp22.200.000 + Rp840.000

C. Keuntungan

Keuntungan per periode =

= Total pendapatan – Total biaya produksi

= Rp23.040.000 – Rp21.396.800

= Rp 1.643.200

D. Break Event Point (BEP) Usaha Penggemukan Sapi Potong

Titik impas atau break event point (BEP) merupakan perbandingan antara total biaya yang dikeluarkan dnegan total produksi.

BEP Volume Produksi = Total biaya produksi : harga jual

= 21.396.800 : 15.000/kg

= 1.426/kg

BEP Harga = Total biaya : Berat sapi setelah digemukkan

= 21.396.800 : (5×296) kg

= 21.396.800 : 1480

= Rp14.457/kg

Hitungan di atas dapat diartikan bahwa usaha penggemukan sapi ini akan mencapai titik impas jika 5 ekor sapi tersebut mencapai berat 1.426/kg atau harga jual Rp14.457/kg.

E. Benefit Cost Ratio

BCR adalah perbandingan antara angka pendapatan dengan biaya yang dikeluarkan.

B/C Ratio = Total Pendapatan : Total Biaya Produksi

  • Rp23.040.000 : Rp21.396.800
  • =1,08

Hitungan di atas artinya setiap periode produksi 4 bulan dari setiap modal Rp100 yang dikeluarkan akan diperoleh pendapatan sebanyak Rp1,08. Nah itulah analisa usaha penggemukan sapi potong. Semoga bermanfaat.

Baca Juga :

Analisa Usaha Budidaya Ikan Nila : Keuntungan & Tips

Analisa Budidaya Lele 1000 Ekor Untung Besar

admin Penulis

Ayo Budidaya adalah situs blog yang menggambarkan tentang semua metode budidaya hingga menjadi suatu produk. Semua berisikan tentang informasi bermanfaat yang bisa digunakan setiap orang dalam beraktifitas budidaya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *