makalah nutrisi ternak ruminansia

Makalah Nutrisi Ternak Ruminansia

Ayobudidaya.com – Berikut ini adalah Makalah Nutrisi Ternak Ruminansia yang bisa kita pelajari. Makalah ini berkaitan tentang optimalisasi pemanfaatan limbah perkebunan dan pertanian untuk pakan ruminansia.

Makalah ini dikutip dan di posting untuk memahami ilmu nutrisi ternak ruminansia di fakultas peternakan atau disebut Fapet. Sehingga kita tau tabel kebutuhan nutrisi ternak ruminansia.

Yang nantinya bisa menjadi salah satu refrensi jurnal nutrisi ternak ruminansia yang bisa dipelajari. Seperti sebelumnya kami juga telah menulsi tentang, Baca : Metabolisme Mineral Pada Ternak Ruminansia.

Pasokan Nutrisi Pada Ternak Ruminansia

Pasokan nutrisi ternak ruminansia yang berhubungan dengan biproses di dalam rumen dan pascarumemn diantaranya :

Amonia

Amonia adalah sumber nitrogen yang utama dan penting untuk sintesis protein mikroba. Sekitar 82% spesies mikroba mampu menggunakan amonia sebagai sumber N. Oleh sebab itu peningkatan kadar N dengan amoniasi menjadi salah satu pilihan.

Amoniasi merupakan teknologi pakan yag cepat, mudah dan murah. Cara pembuatan amoniasi yaitu pakan dimasukkan ke dalam kantong atau drum pastik berlapis-lapis dan dibiarkan selama 7-10 hari.

Prinsip reaksi aoniasi yaitu enzim yang dihasilkan oleh bakteri termofilik yang ada secara alami. Dalam proses amoniasi, lignin yang alkali akan dilarutkan.

Gugus hidroksil (OH) akan memutus ikatan lignin dengan selulosa dan ikatan hidrogen (H+) atar glukosa dalam molekul selulosa sehingga pakan memuai dan lebih terbuka bagi serangan mikroba rumen.

Selain itu, N amonia dan urea yang mungkin tersisa akan merangsang pertumbuhan populasi bakteri rumen.

Pada akhirnya perubahan-perubahan itu menyebabkan kecernaan pakan meningkat.syarat proses amoniasi yaitu konsentrasi amonia yang digunakan <3% dan harus ada masa prolem.

Proses amoniasi biasa digunakan untuk mengolah beberapa limbah pertanian dan agroindustri, diantaranya :

  1. Daun sawit
  2. Jerami padi
  3. Jerami jagung
  4. Pod kakao

Sulfur

Mineral S dimanfaatkan oleh mikroba rumen sebagai komponen pembentuk tiga asam amino yang mengandung S (metionin, sistin, dan sistein). Selain itu S merupakan sumber vitamin tiamin dan biotin.

Sulfur dapat meningkatkan pertumbuhan mikroba rumen, pertumbuhan sapi, dan kecernaan ransum. Suplementasi analog hidroksi metionin (ahm) sebagai sumber S dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri dan penampila ternak.

Sumber asam amino yang mengandung sulfur diantaranya tepung bulu ayam dan tepung darah. Tetapi protein yang tinggi pada kedua bahan ini diikat oleh keratin sehingga harus diproses terlebuh dahulu.

Pengolahan dapat dilakukan secara kimiawi dengan hidrolisis menggunakan HCl 12% atau NaOH 3-6%.

Komposisi asam amino bersulfur beberapa pakan (g/16g N)

Asam amino Hijauan alfafa Silase jagung Tepung bulu ayam Tepung darah Bakteri rumen
Metionin 0,1 0,1 0,7 1,0 1,0
Sistein 0,2 0,2 3,6 0,8 0,5

Asam lemak rantai cabang

Asam lemak rantai cabang atau branched-chain fatty acids (BCFA) dibutuhkan untuk mensintesis proteun mikroba. BCFA meliputi asam isobutirat, 2 metilbutirat, dan isovalerat.

BCFA dalam rumen adalah hasil dari dekarboksilasi dan deaminasi asam amino rantai cabang (branched-chain amino acids/BCAA) yaitu valin, isoleusin dan leusin.

Bahan pakan alami sumber bcaa antara lain tepung daun singkong, bungkil kelapa dan tepung ikan. Berikut komposisi asam amino bercabang beberapa sumber protein (g/16g N)

Asam amino Daun Singkong Bungkil Kelapa Tepung Ikan
Isoleusin 6.7 2.7 2.2
Leusin 10.9 1.2 3.3
Valin 5.45 2.3 2.7

Defaunasi parsial

Defaunasi rumen adalah pengurangan sebagian atau penghilangan seluruh protozoa di dalam rumen. Defaunasi dapat dilakukan dengan penambahan daging buah klarak, daun kembang sepatu, dan daun waru serta minyak kelapa sawit.

Asam amino pembatas

Asam amino metionin, lysin, dan treonin dari beberapa penelitian merupakan asam amino pembatas bagi ruminanisa berproduksi tinggi.

Ketiga asam aino tersebut merupakan asam amino yang perlu dipertimbangkan dalam dalam melengkapi ransum.

Penggunaan Mineral Organik

Penggunaan mineral organik dalam upaya meningkatkan bioproses rumen, pertumbuhan serta kualitas daging ruminansia.

Penggunaan Zn organik

Pemberian mineral Zn dapat memacu pertumbuhan mikroba rumen dan meningkakan penapila ternak.

Defisiensi Zn dapat menyebabkan parakeratosis jaringan usus dan dapat mengganggu peranan Zn dalam metaolisme mikroorganisme rumen, mengingat kebutuhan Zn bagi mikroorganisme cukup tinggi yaitu 130-220 mg/kg.

Zn sebagai metalloenzim yang melibatkan banyak enzim antara lain polimerase dna, peptidase karboksi A dan B posfatase alkalin. Aktivitas enzim-enzim tersebut akan terganggu jika terjadi defisiensi Zn.

Pemberian Zn dalam bentuk organik meningkatkan jumlah Zn yang terserap dan pemberian asam lemak tak jenuh rantai panjang memberikan pengaruh positif pada ternak.

Penggabungan lysin, Zn, dan asam lemak tak jenuh rantai panjang sebagai ikatan lysin-Zn-pufa dapat melindungi lysin dari degradasi dalam rumen dan meningkatkan penyerapanzn serta pufa di pascarumen.

Pengaruh Zn Organik terhadap Parameter Rumen dan Retensi Nitrogen.

Pengaruh Zn organik terhadap Volatile Fatty Acid (VFA)

Zn merupakan aktivator berbagai enzim termasuk enzim-enzim yang berhubungan debgab netabolisme energi sehingga meningkatkan metabolisme sel mikroba sehingga bioproses semakin meningkat yang digambarkan dengan meningkatknya VFA.

Pengaruh Zn Organik terhadap Amonia (NH3) Rumen

Tingginya nilai nh3 pada ransum yang mengandung lisin-zn-pufa karena penambahan asam amino lisin yang didegradasi di dalam rumen menjadi NH3. Hal tersebut menunjukkan bahwa lisin pada campuran lisin-Zn-PUFA terdegradasi di dalam rumen.

Pengaruh Zn Organik terhadap Alantoin Urine

Perlakuan tidak mempengaruhi kandungan alantoin urine. Hal ini menggambarkan bahwa mikroba rumen yang dimanfaatkan sebagai sumber protein bagi induk semangnya tidak dipengaruhi oleh perlakuan penabahan zn.

Pengaruh Zn Organik terhadap Retensi Nitrogen dan Konsumsi N

Perlakuan Zn-PUFA dan campuran lisin-Zn-PUFA memberikan nilai retensi N dan konsumsi N ransum lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya.

Hal ini berarti ada peningkatan bioproses dalam rumen dan pasca rumen yag disebabkan oleh perlakuan Zn-PUFA.

Di samping itu, Zn menstimulir pertumbuhan mikroba rumen juga berperan terhadap aktivasi enzim-enzim metabolis yang berhubungan dengan protein sehingga nampak memberikan peningkatan terhadap retensi N dan konsumsi N.

Pengaruh Zn Organik terhadap Kolesterol, HDL, dan HDL Serum Darah.

Kolesterrol darah terendah pada perlakuan Zn-PUFA dan lisin-Zn-PUFA. Hal ini mengindikasikan bahwa PUFA dari minyak ikan lemuru sangat berperan dalam menurunkan kolesterol darah.

Penurunan kolesterol darah juga mengindikasikan penurunan kolesterol dalam jaringan tubuh. High Density Lipoprotein (HDL) merupakan lipoprotein yang dapat menurunkan resiko arterosklerosis.

Low Density Lipoprotein merupakan protein yang bersifat arterogenik.

Pengaruh Zn Organik Terhadap Parameter Produksi Dan Kualitas Daging

Pengaruh Zn Organik Terhadap Pertambahan Bobot Badan (PBB), Persentase Karkas, dan Persentase Daging

Nilai PBB, persentase karkas, dan persentase daging tertinggi di dapat pada perlakuan lisin.  Hal ini menggambarkan bahwa lisin, Zn, dan PUFA pada perlakuan lisin-Zn-PUFA berfungsi dengan baik.

Lisin merupakan asam amino pembatas dapat meningkatkan keseimbangan asam amino sehingga metabolisme protein semakin meningkat, hal ini tergambar juga dengan tingginya nilai retensi N.

Zn berperan sebagai aktivator berbagai macam enzim pertumbuhan sehingga dengan adanya Zn pertumbuhan menjadi lebih baik. Hal ini didukung juga dengan adanya PUFA yang menstimulir penyerapan Zn ke dalam jaringan tubuh.

Penggunaan Zn, Cu, Se, dan Cr Organik

Suplementasi mineral Zn baik berupa Zn lisinat atau proteinat memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan dan parameter nutrisi pada ternak, sedangkan suplementasi Cu berbentuk Cu lisinat berpengaruh menurunkan pertumbuhan.

Namun sebaiknya dalam bentuk Zn, Cu proteinat mapu menghasilkam pertumbuhan terbaik. Oleh karena itu, suplementasi Cu sebaiknya dalam bentuk Cu proteinat.

NRC (1988) merekomendasikan kebutuhan Zn dan Cu masing-masing 50 ppm dan 10 ppm. Salah satu mineral mikro yang juga sangat dibutuhkan ternak ruminansia adalah Se (selenium) kadarnya dalam pakan banyak yang belum diketahui.

Sedangkan dalam pakan yang telah diketahui kadarnya ketersediaan biologisnya sangat beragam. Cromium dapat meningkatkan pemasukan glukosa ke dalam sel-sel tubuh.

Penentuan Tingkat Penggunaan Mineral Zn, Cu, Cr, dan Se Organik Mikro Organik Secara In Vitro Berdasarkan Kadar Amonia (NH3)

Dosis mineral mikro organik yang tinggi mengakibatkan penurunan kadar NH3 dalam cairan rumen.

Konsentrasi NH3 mencerminkan jumlah protein ransum yang fermentabel di dalam rumen dan nilainya sangat dipengaruhi oleh kemapuan mikroba rumen dalam mendegradasi protein ransum.

Baca Juga : Cara Membuat Pakan Ternak Dari Bungkil Sawit

Pertumbuhan mikroba rumen mulai terganggu bila kadar NH3 dalam rumen sekitar 3,57 mm. Kadar NH3 4-12 mm dan kadar NH3 optimum adalah 8 mM.

Penentuan Tingkat Penggunaan Mineral (Zn, Cu, Cr, dan Se) Organik Secara In Vitro Berdasarkan Kecernaan Bahan Kering

Ransum perlakuan dengan level penggunaan mineral mikro organik lebih baik jika dibandimgkan dengan ransum perlakuan tanpa penggunaan mineral mikro orgaik, karena pada aktivitas metabolismenya mikroba rumen membutuhkan mineral

Penentuan Tingkat Penggunaan Mineral (Zn, Cu, Cr, Da Se) Organik Secara In Vitro Berdasarkan Kecernaan Bahan Organik

Penggunaan mineral mikro orgnik 1,5 kali dari rekomendasi di dalam ransum perlakuan menyebabkan bahan organik yang dicerna oleh mikroba rumen sama dengan perlakuan r2dan r4.

Secara umum dapat dikatakan ransum perlakuan dengan level penggunaan mineral mikro organik hasilnya lebih baik jika dibandingkan dengan perlakuan tanpa penggunaan mineral mikro organik.

Peningkatan kecernaan bahan kering ransum selalu diikuti dengan kecernaan bahan organik ransum.

Berdasarkan pertimbangan nilai KCBK dan KCBO serta pertimbangan nilai VFA maka pemberian mineral mikron 1,5 kali dari rekomendasi NRC (1988) sebagai rekomendasi untuk penggunaan mineral mikro organik di dalam ransum.

Penggunaan Ca dan Mg Organik

Penentuan tingkat penggunaan mineral makro organik (Ca-PUFA dan Mg-PUFA) secara in vitro

Asam lemak terbang (VFA) merupakan sumber energi utama bagi ternak ruminansia yang dihasilkan dari proses fermentasi pakan oleh bakteri rumen.

Energi tersebut digunakan untuk pertumbuhan ternak inang dan mempertahankan kehidupan  mikroorganisme itu sendiri. Kisaran konsentrasi VFA yang mencukupi pertumbuhan mikroba rumen adalah 80.00-16.00 mm.

Meningkatnya aktivitas bakteri rumen di dalam proses biofermentasi menyebabkan konsentrasi VFA yang dihasilkanpun meningkat.

Penentuan Tingkat Penggunaan Mineral Makro Organikn(Ca-PUFA dan Mg-PUFA) Secara In Vitro Berdasarkan Kadar Amonia (NH3)

Amonia dalam cairan rumen merupakan hasil dari proses degradasi protein dan NPN yang masuk dalam rumen. Amonia erat kaitannya dengan sintesis mikroba rumen, karena mikroba rumen memanfaatkan amonia sebagai sumber nitrogen (N) utama untuk sintesis protein mikroba rumen.

Dengan demikian kadar NH3 merupakan salah satu indikator untuk mengetahui fermentabilitas pakan yang berhubungan dengan kecernaan protein pakan, aktivitas, dan populasi mikroba rumen.

Pemberian mineral makro organik dapat meningkatkan kadar amonia cairan rumen.

Kadar NH3 menurun seiring dengan peningkatan dosis penggunaan mineral makro organik. Konsentrasi nh3 yang mampu dan baik untuk pertumbuhan mikroba rumen berkisar antara 4-12 mm.

Penentuan Tingkat Penggunaan Mineral Makro Organik (Ca-PUFA dan Mg-PUFA) Secara In Vitro Berdasarkan Kecernaan Bahan Kering

Kecernaan Bahan Kering (KCBK) merupakan fermentase pakan dalam bahan kering yang dapat dicerna oleh ternak. Kecernaan bahan kering menjadi salah satu ukuran dalam menentukan kualitas dari suatu bahan makanan ternak.

Ransum perlakuan dengan mineral makro orgnaik lebih baik, bila dibandingkan dengan ransum perlakuan yang tidak menggunakan minerak makro organik.

Baca Juga: Bahan Baku Pakan Sumber Energi Non Ruminansia

Karena mikroba rumen membutuhkan mineral Ca dan Mg untuk aktivitas metabolismenya.

Penentuan Tingkat Penggunaan Mineral Makro Organik (Ca-PUFA dan Mg-PUFA) Secara In Vitro Berdasarkan Kecernaan Bahan Organik

Kecernaan bahan organik merupakan persentase bahan organik yang dapat dicerna oleh ternak.

Penambahan mineral makro organik sesuai rekomendasi ke dalam ransum perlakuan akan menyebabkan mikroba rumen akan lebih banyak menecerna bahan organik.

Penambahan mineral makro organik dapat memperbaiki kecernaan bahan organik ransum. Peningkatan KCBO selalu diiringi dengan peningkatan KCBK ransum.

Pengaruh Penggunaan Mineral Mikro-Makro Organik

Berikut ini pengaruh penggunaan mineral mikro-makro organik secara in Vivo terhadap parameter rumen, retensi nitrogwn serta pertumbuhan

Pengaruh Penggunaan Mineral Mikro-Makro Organik Secara In Vivo Terhadap Amonia (NH3)

Tingginya nilai NH3 pada Perlakuan Zn, Cu, Se, dan Cr organik karena tambahan ransum amino lisin yang didegradasi di dalam rumen menjadi NH3. Hal tersebut mengindikasikan lisin pada campuran mineral makro organik terdegradasi di dalam rumen.

Pengaruh Penggunaan Mineral Mikro-Makro Organik Secara In Vivo Terhadap Alantoin Urine

Perlakuan tidak mempengaruhi kandungan alantoin rumen. Hal ini menggambarkan bahwa mikroba rumen yag dimanfaatkan sebagai sumber protein bagi induk semangnya tidak dipengaruhi perlakuan yang dicobakan.

Pengaruh Penggunaan Mineral Mikro-Makro Organik Secara In Vivo Terhadap Retensi Nitrogen

Baca Juga: Fungsi Karbohidrat Bagi Ternak (Non & Ruminansia)

Retensi N berkolerasi positif terhadap sintesis protein daging. Tingginya nuilai retensi n pada perlakuan ca-pufa dan mg-pufa sesuai dengan digambarkan oleh parameter rumen yaitu tingginya nilai VFA.

Hal ini berarti ada peningkatan bioproses dalam rumen da pasca rumen yag disebabkan oleh perlakuan Ca-PUFA dan Mg-PUFA. Peranan PUFA dalam Ca-PUFA dan Mg-PUFA memberikan pengaruh positif dalam pertumbuhan bakteri dalam rumen.

Di samping itu, Ca dan Mg selain menstimulir pertumbuhan mikroba rumen juga berperan terhadap aktivasi enzim-enzim metabolisme yang berhubungan dengan energi sehingga tampak memberikan peningkatan terhadap VFA rumen.

Pengaruh Penggunaan Mineral Mikro-Makro Organik Secara In Vivo Terhadap KCBOdan KCBK

Tingginya nilai kecernaan ini disebabkan ransum basal telah memenuhi kebutuhan kambing untuk tumbuh.

Peranan mineral Ca, Mg dan mineral Zn, Cu, Se, dan Cr orgnaik menstimulir dan mengaktivasi enzim yang berhubungan dengan metabolisme energi cukup tinggi.

Pengaruh Penggunaan Mineral Mikro-Makro Organik Secara In Vivo Terhadap Pertambahan Bobot Badan (PBT)

Nilai PBB yang tinggi menggambarkan bahwa minerak mikro dan makro, PUFA, dan lisin. Lisin merupakan asam amino pembatas yang dapat meningkatkan keseimbangan asam amino sehingga metabolisme protein semakin meningkat, hal ini menggambarkan bahwa dengan tingginyan nilai retensi N.

Mineral berperan terhadap pertumbuhan dan sebagai aktivator berbagai macam enzim pertumbuhan sehingga dengan adanya mineral makro dan mikro pertumbuhan semakin lebih baik.

Hal ini didukung juga dengan adanya PUFA yang menstimulir penyerapan mineral ke dalam jaringan tubuh.

Penggunaan Mineral Organik Dan Anorganik Dalam Ransum

Berikut ini penggunaan mineral organik dan anorganik dalam ransum Berbasis Limbah Agroindustri Sebagai Upaya Meningkatkan Produksi Ruminansia

Pengaruh penggunaan mineral organik dan anorganik terhadap parameter rumen

Mikroba rumen membutuhkan mineral makro (ca dan mg) dan mineral mikro (Zn, Cu, Cr dan Se) untuk metabolisme di dalam tubuh mikroba sehingga meningkatkan efisiensi produksi.

Pemberian mineral dalam bentuk organik juga semakin meningkatkan aktivitas mikroba rumen lisin di dalam mineral mikro organik dapat meningkatkan nilai NH3.

Dan minyak jagung di dalam mineral makro organik dapat mempunyai efek defaunasi, protozoa akan menurun sehingga jumlah bakteri semakin meningkatkan aktivitas mikroba rumen lisin di dalam mineral mikro organik dapat meningkatkan nilai nh3.

Dan minyak jagung di dalam mineral mikro organik dapat mempunyai efek defaunasi, protozoa akan menurun sehingga jumlah bakteri semakin meningkat.

Pengaruh Mineral Organik Dan Aorganik Terhadap Kecernaan Bahan Kering Dan Bahan Organik

Pemberian mineral organik menghasilkan efek ganda karena asam amino lisin dapat meningkatkan keseimbangan asam amino sehingga berimplikasi pada peningkatan penyerapan zat-zat makanan terutama protein.

Hasil akhirnya dapat meningkatkan kecernaan bahan kering dan bahan organik.

Pengaruh Penggunaan Mineral Organik Dan Anorganik Terhadap Parameter Produksi

Penambahan mineral organik dibandingkan dengan mineral anorganik secara rata-rata meningkatkan pertambahan bobot badan dan konversi ransum.

Pertambahan bobot badan nyata meningkat secara drastis (lebih 50%) dengan adanya penambahan mineral organik.

Nilai rata-rata pertambahan bobot badan masing-masing 0,457kg/ekor/hari untuk perlakuan basal 1,290 kg/ekor/hari untuk perlakuan mineral anorganik, 1,497 kg/ekor/hari untuk perlakuan mineral organik.

Nilai efisiensi ransum masing-masing 0,081, 0,027, 0,230.

Baca Juga: Pengertian Ilmu Nutrisi Ternak Non Ruminansia

Itulah makalah ilmu nutrisi ternak ruminansia yang bisa kita pelajari. Semoga informasi ini dapat bermanfaat dan menjadikan informasi yang bisa menjadi media belajar. Makalah ini dikutip dari laporan resume materi kuiah Fitri Wahyuni.

Sekian yang bisa disampaikan. Terimakasih. Salam.

Mery Kusyeni Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *