manfaat jerami padi

Manfaat Jerami Padi Yang Harus Kita Ketahui

Ayobudidaya.com – Ada banyak manfaat jerami padi yang bisa kita ketahui. Jadi hasil sisa panen padi ini tidak perlu dibuang, atau tidak dimanfaatkan. Karena ada banyak manfaat yang bisa kita dapatkan.

Di antaranya adalah manfaat jerami padi untuk pakan ternak. Pada peternakan rakyat, jerami padi biasa digunakan sebagai pakan ternak. Bahkan ada teknik amoniasi jerami padi. Dengan demikian, ada banyak manfaat jerami bagi sapi.

Selain untuk pakan ternak, pemanfaat jerami sisa panen atau damen padi ini juga berguna sebagai pupuk organik. Pemanfaat jerami padi sebagai pupuk organik ini biasa dan umum digunakan petani yang dibakar dan abunya digunakan sebagai pupuk organik untuk tanamannya.

Untuk itu, penulis kali ini mengajak kita semua untuk mengenal lebih jauh manfaat apa saja yang diterima dari damen padi ini, baik sebagai pakan ternak, maupun sebagai pupuk organik, dan dimanfaatkan lainnya.

Manfaat Jerami Padi Untuk Pakan Ternak

Kita mulai terlebih dahulu sebagai pakan ternak. Di atas kita sudah singgung tentang amoniasi. Tak sekedar itu saja. Bahkan, jerami juga bisa difermentasi untuk meningkatkan kesukaan ternak pada pakan jerami ini.

Baca : Cara Membuat Fermentasi Jerami untuk Pakan Sapi

Selanjutnya yang perlu kita ketahui adalah, potensi ini belum tergarap maksimal. Sebab, pemanfaatan jerami padi sebagai pakan baru mencapai 31-39 %. Sisanya untuk dibakar dan menjadi pupuk dan sebagai industri atau kerajinan tangan.

Oleh karena itu, jerami padi mempunyai potensi yang sangat baik untuk dimanfaatkan menjadi makanan ternak ruminansia agar dapat meningkatkan produktivitasnya, sehingga swasembada daging dapat tercapai.

Penggunaan jerami padi sebagai pakan ternak kerap dilakukan di daerah tropik, terutama pada musim kemarau. Tapi penggunaannya itu mengalami kendala berupa nilai nutrisi yang rendah.

Baca : Pakan Sapi Perah: Jenis Rumput, Kosentrat & Alternatif

Mulai dari kandungan nitrogen, kalsium, hingga fosfor. Sebaliknya, kandungan serat kasar (lignin, selulosa, dan silica) justru tinggi, sehingga mengakibatkan daya cerna rendah dan konsumsinya menjadi terbatas.

Jika jerami padi langsung diberikan kepada ternak, maka daya cernanya rendah dan proses pencernaannya lambat, sehingga total yang dimakan per satuan waktunya menjadi sedikit (Mayangdeni, 2012).

Beberapa metode untuk meningkatkan mutu jerami padi antara lain dengan “perlakuan” terhadap jerami, suplementasi dan seleksi genetika varietas padi yang mengandung kualitas jerami yang baik.

“Perlakuan” (pretreatment) yang dimaksud antara lain adalah perlakukan fisik, kimiawi, dan biologis. Perlakuan fisik terdiri dari penguapan, pemotongan maupun penumbukan.

Perlakuan fisik ini tidak mempengaruhi kandungan kimiawi jerami. Sedang perlakuan kimiawi terdiri dari perlakuan basa, asam dan reagen oksidasi (Doyle et al,1986).

Perlakuan basa paling banyak diteliti untuk meningkatkan nilai nutrisi bahan pakan berserat, karena perlakuan basa ini dapat menghancurkan ikatan ester hemiselulosa dengan lignin.

Perlakuan dengan NaOH merupakan perlakuan yang paling efektif dalam meningkatkan nilai gizi, namun karena residu yang dihasilkan berbahaya dan mahal harganya, maka perlakuan ini tidak banyak digunakan (Cheeson, 1988).

Perlakuan urea yang merupakan perlakuan basa juga banyak diteliti, terutama di Asia Tenggara, karena urea merupakan sumber ammonia dan mudah diperoleh terutama di daerah yang berbasis tanaman padi.

Keuntungan dari perlakuan urea ini adalah selain urea meningkatkan kandungan Nitrogen melalui penambahan urea, juga reaksi basanya dapat merusak ikatan lignin-hemisellulosa (Schiere dan Nell, 1993).

Perlakuan biologis terhadap jerami padi terdiri dari pengkomposan, fermentasi dan penumbuhan jamur.

Salah satu metoda yang mudah dilakukan adalah fermentasi jerami padi terbuka yaitu ditumpuk berlapis-lapis setebal 20 cm kemudian setiap lapisan ditaburi campuran 2,5 kg probiotik (misalnya probion) dan 2,5 kg urea untuk setiap ton jerami segar dengan masa fermentasi selama 21 hari, dapat meningkatkan kandungan protein dari 3,5 menjadi 7% (Doyle et al., 1986).

Tabel 1. Nilai Gizi Jerami Antara Proses Fermentasi dengan Proses Biasa

Parameter Jerami Padi (%/kg BK)
Tanpa Fermentasi Fermentasi
Protein 3,5 7.0
Serat Kasar 80 77
Daya Cerna 28 55
(Blogdetik, 2009).

Adapun keuntungan  pengolahan limbah jerami padi dengan menggunakan cara  fermentasi  adalah:

  1. Meningkatkan daya cerna ternak terhadap jerami karena struktur jerami lebih lunak.
  2. Meningkatkan kandungan gizi jerami.
  3. Meningkatan penyediaan bahan pakan ternak
  4. Memanfaatkan limbah pertanian sebagai pakan ternak sapi.

Ciri-ciri hasil fermentasi jerami padi yang baik adalah beraroma harum atau beraroma tape, warna kuning kecoklatan, teksturnya lemas dan tidak berjamur (Wikipedia,2012)

Pemanfaatan Jerami Padi Sebagai Pupuk Organik

Pada umumnya, manfaat jerami padi juga untuk pupuk organik. Sebagian besar malah. Berdasarkan data, penggunaan jerami padi sebagai pupuk organik di Indonesia mencapai 36-62%.

Cara memanfaatkan jerami padi sebagai pupuk organik ini dengan cara dibakar. Lalu dikembalikan ke tanah dengan cara ditaburkan.

Caranya juga cukup mudah. Tinggal dibakar begitu saja, di sawah bekas tanam padi, maupun di pematangnya. Namun biasanya petani membakarnya dengan menimbun dan menunggu hingga berminggu-minggu. Sampai jerami kering dan bisa dibakar.

Selain sebagai pupuk. Jerami juga dimanfaatkan sebagai keperluan industri. Ini termasuk pemanfaatan jerami padi untuk kerajinan. Dan pengelolaan dibidang kerajinan ini penggunaanya mencapai 7-16 persen.

Baca : Budidaya Durian Montong dan Cara Mudah Menanamnya

Nah itulah manfaat manfaat jerami padi. Bahkan untuk penggunaan pupuk durian montong juga bagus. Sebagai media tanam menyuburkan tanah sebelum melakukan proses penanaman.

Itulah yang bisa kita pelajari. Semoga informasi ini bermanfaat. Terimakasih. Salam.

Kaseto Efendi Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *